Fashion & Aksesori

Gift Berkesan Berbahan Koran Bekas

Gift Berkesan Berbahan Koran Bekas

Menghadiahi orang yang Anda kasihi tak melulu bermahal-mahal ria. Beruntung, bila hadiah mahal itu ternyata sesuai selera. Repotnya, sudah mahal, ternyata person spesial Anda menakar biasa-biasa.

Adalah Dluwang, kreator gift yang Anda butuhkan, dengan performa unik menarik, dan jelas, murah meriah. Anda dapat menenteng berbagai macam sandal, tas, boks, aneka miniatur, frame foto, frame kaca, dan suvenir, berbahan koran dan majalah bekas.

Miniatur Tugu Jogja, Menara Eiffel, vespa, dan sepeda onthel berbahan koran bekas karya Dluwang, akan membuat Anda semakin jatuh cinta pada Kota Jogja berikut dinamika kreativitasnya.

“Dluwang adalah usaha di bidang kerajinan, khususnya pengolahan limbah kertas koran dan majalah bekas,” ujar founder dan owner Dluwang Art, Briane Novianti Syukmita di galerinya, Ledok Tukangan DN 2/257 Yogyakarta.

Bagaimana mungkin, kertas bekas yang mudah rusak, dapat disulap menjadi barang bisa pakai, trendi, sekaligus awet?

“Produk-produk yang dihasilkan Dluwang sudah dijamin keawetan dan ketahanannya terhadap air. Kami memiliki formula anti air yang membuat koran tidak dapat mudah robek jika terkena air,” ungkap Novi.

Ia berkisah, Dluwang bermula dari pemasaran online serta sebatas mulut ke mulut. Pengolahan kertas di Indonesia yang belum maksimal menjadi alasan lahirnya Dluwang.

“Banyak kertas koran dibiarkan bertumpuk-tumpuk tanpa diolah. Dari situ kami melihat peluang usaha yang cukup besar. Di sini kami dapat mengolah dan dapat memberikan nilai lebih terhadap kertas koran, majalah, serta tabloid bekas tersebut,” tutur alumnus Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada tersebut.

Jadi, sambungnya, selain berbisnis, misi Dluwang adalah kepedulian terhadap lingkungan, khususnya pemanfaatan limbah kertas koran dan majalah yang makin lama makin banyak lantaran semakin banyaknya kantor-kantor berita di Indonesia.

Pemberdayaan dan Ekspor

Saat ini, Dluwang telah memiliki dua orang kepercayaan yang menangani produksi. Selain itu, bisnis berkategori Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut bekerja sama dengan beberapa pengrajin. Sebuah interaksi bisnis yang berbuah pemberdayaan ekonomi.

“Kami memiliki desa binaan di daerah Seyegan, di mana rata-rata pekerjaan warga di sana adalah petani. Jadi, memelintir kertas koran dan majalah menjadi pekerjaan tambahan bagi mereka. Proses produksi menjadi fokus kami, karena tidak banyak pengrajin yang bisa mengolah kertas koran,” terang Novi.

Dengan berbinar, ia berkata, Dluwang terus berkembang dan telah melayani pemesanan dari berbagai kota di Indonesia.

“Ada beberapa produk kami yang sudah diekspor ke Amerika. Hal ini membuktikan bahwa produk kami dapat diterima oleh pasar dan mampu bersaing dengan produk-produk berbahan mendong, enceng gondog, gedebog pisang, dan lainnya,” katanya.

Satu lagi, Dluwang dapat berbisnis dengan mengampanyekan kepedulian lingkungan dan terus mengajak masyarakat luas untuk peduli lingkungan.
[product_category category=”arts-antique” orderby=”date”]